Sabar Menghadapi Kematian Anak

Berusaha sabar ditinggal mati anak

Berusaha sabar ditinggal mati anakSeorang sahabat saya baru saja berduka. Anak pertamanya, yang kelahirannya dinanti-nanti sejak dua tahun pernikahannya, meninggal setelah mengalami sakit hingga dirawat ke RSCM. Saat saya takziah ke rumahnya, sama sekali tak tampak gurat duka itu pada wajahnya. Dia seperti biasanya, selalu tersenyum pada siapa saja, bahkan masih bisa bercanda.

Waktu berlalu, Allah memberikannya amanah lagi, kini bayi laki-laki yang lucu dan sehat. Tetapi, belum dua tahun usia bayi itu, kembali Allah mengambilnya. Dan lagi-lagi, saat saya takziah ke rumahnya Masya Allah dia masih tersenyum dan bercanda dengan para tamunya. Padahal dia baru kehilangan anak kesayangannya, dan sudah dua kali terjadi.

Saat itu aku menyangka, ah dia mungkin sedang akting di depan semua orang agar terlihat ceria meski hatinya terluka. Dengan sok tahu saya bilang, “kamu tak perlu bersandiwara. Kalau sedih ya sedih, nggak apa-apa.”

Musibah, seperti sakit, kematian, bencana alam dan sebagainya dianggap sebagai keadaan yang buruk. Lalu manusia memaknainya dengan tangisan atau bahkan ratapan.

Orang yang beriman, memaknai segala sesuatu yang terjadi padanya adalah kehendak Allah yang sudah menjadi ketentuanNya, meskipun itu buruk menurut kita. Allah berfirman:

“Dan Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang- orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157).

Anas bin Malik r.a bercerita bahwa suatu saat anak laki-laki dari Abu Thalhah dan Ummu Salamah mati. Ummu Salamah lantas berpesan kepada keluarganya agar jangan memberitahu kepada suaminya tentang kematian anaknya. Pada saat Abu Thalhah pulang dari kerja, ia terlihat sangat kelelahan. Sang istri mempersilahkan suaminya untuk mandi terlebih dahulu lalu makan malam bersama. Selesai mandi, Abu Thalhah terkejut melihat dandanan istrinya yang terlihat sangat cantik, bahkan lebih cantik dari biasanya. Mereka pun bersenang-senang malam itu. Kemudian Ummu Salamah bertanya.

“Wahai suamiku, apa pendapatmu tentang suatu kaum yang meminjamkan sesuatu kepada sebuah keluarga, lalu mereka mengambil barang yang dipinjamkannya, apakah mereka berhak menolaknya?”

 “Tidak, kaum itu tidak berhak menolaknya karena barang itu bukan miliknya,”jawab Abu Thalhah tegas.

“Apa yang sebenarnya terjadi wahai istriku?” tanya Abu Thalhah penasaran.

“Jika demikian maka mintalah pahala kepada Allah SWT tentang anak kita,” ujar Ummu Salamah.

“Wahai suamiku, anak kita telah meninggal dunia, anak kita telah diambil Allah SWT sebagai pemiliknya, bukankah anak kita itu hanya titipan dari Allah,” jelas Ummu Salamah.

Begitulah orang beriman memaknai segala sesuatu yang ada padanya hanya sebagai titipan dari pemiliknya yaitu Allah swt baik berupa harta, anak, istri, orang tua, pekerjaan, dan sebagainya. Ketika satu per satu titipan itu diambil lagi oleh Allah, tidak ada ratapan pada dirinya. Yang ada hanya keikhlasan dan kesabaran. Karena semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Wallahu a’lam. [Yu.As]

Please follow and like us:

1 Comment

  1. […] Dan jadilah ia berada dalam keadaan tanpa cahaya sedikitpun. Gelap yang berlipat. Saat ia ditimpa cobaan yang amat berat ini, lihatlah bagaimana […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *